News

Dapatkan berita dan informasi terbaru di Bandara Changi

09 August 2018 |

Terminal 4 Bandara Changi akan menampilkan karya seni kinetik berskala besar, seni kontemporer dan pengalaman digital imersif



Singapura, 25 Juli 2017 – Penumpang yang bepergian melalui dan mengunjungi Terminal 4 (T4) Bandara Changi yang sebentar lagi dibuka akan dapat menikmati pengalaman visual imersif dan teatrikal dengan karya seni dan hiburan yang dikurasi secara khusus oleh seniman lokal dan internasional.   

Berlokasi di titik-titik strategis di sepanjang terminal, koleksi yang ada menggambarkan tema dari T4 yang bersemangat, ceria dan mengejutkan secara positif serta akan diapresiasi oleh para penumpang yang mencari sesuatu yang lebih dari sebuah bandara. Penumpang akan dihibur oleh berbagai karya seni tradisional, seperti patung-patung, maupun instalasi kinetik dan multimedia sebagai selingan berwarna dari hiruk-pikuk perjalanan.   

 

Karya seni yang bergerak

Di tengah T4 terdapat karya seni kinetik berskala besar, Petalclouds, yang membentang 200 meter di Central Galleria, memisahkan area umum dan transit. Petalclouds, terlihat dari hampir seluruh terminal, akan membuat seseorang terpukau dengan gerakannya yang anggun mengiringi musik klasik karya komposer pemenang penghargaan BAFTA, Ólafur Arnalds.   

Karya seni kinetik  unik ini mengombinasikan seni dengan teknologi untuk menciptakan koreografi harmonis dan kolektif dari enam ‘petal cloud’ yang persis sama, menghasilkan bentuk menakjubkan dan berkelanjutan, pencahayaan animasi dan refleksi. Karya seni ini menggambarkan awan yang secara perlahan bergerak menuju cakrawala. Rancangan elemen dasar – bentuk kelopak simetris yang terinspirasi oleh kelopak anggrek – dapat ditemukan di seluruh desain arsitektur dan interior terminal.

Peninggalan budaya berada di tengah panggung

Untuk pertama kalinya di Bandara Changi, T4 memberikan kesempatan untuk menunjukkan budaya dan cita rasa lokal Singapura secara permanen kepada penumpang internasional. Heritage Zone di area transit memberikan sekilas evolusi dari asitektur rumah toko di tahun 1880-an sampai 1950-an, termasuk budaya Peranakan yang kaya dan penuh warna yang sering terlihat di area Katong dan Chinatown.    

Penumpang juga dapat menikmati pertunjukan khusus yang ditampilkan di fasad Peranakan. Layar LED berukuran 10m x 6m mengubah dua rumah toko menjadi panggung teater digital, menampilkan pertunjukan mini-teater budaya berdurasi enam-menit, Peranakan Love Story. Musikal tanpa percakapan yang menceritakan kisah romantis yang tidak mungkin terjadi antara dua musisi bertetangga yang tinggal bersebelahan, dengan setting Singapura di tahun 1930-an. Sebuah kolaborasi antara komposer terkenal Singapura dan seniman Dick Lee, pertunjukan ini juga menampilkan talenta lokal termasuk Adrian Pang, Koh Chieng Mun, Amy Cheng dan Benjamin Kheng.   

Selain penglihatan dan suara, Heritage Zone juga melengkapi pengalaman multi-sensori dari budaya lokal yang ditunjukkan melalui rasa dan penciuman dengan integrasi dari gerai ritel dan makanan merek lokal seperti Bee Cheng Hiang, Bengawan Solo, Curry Times, Eu Yan Sang, dan Heavenly Wang.

Pengalaman imersif bebas-stres

Selain Peranakan Love Story, penumpang juga dapat menikmati pengalaman imersif dari lokasi yang tak terduga – area sentralisasi keamanan setelah imigrasi. Immersive Wall berukuran 70m x 5m menunjukkan gambaran menakjubkan kaki langit Singapura, bangunan bersejarah ASEAN, maupun klip animasi lucu mengenai bagasi yang diperiksa sebelum penerbangan. Secara keseluruhan, konten high-definition berdurasi 50 menit telah diproduksi.        

Patung-patung lokal dan internasional

T4 merupakan rumah dari tiga karya patung, semua menggambarkan tema umum dari perjalanan atau penerbangan. Pematung lokal dan pemenang Cultural Medallion, Chong Fah Cheong, menciptakan Hey Ah Chek!, yang terpasang di Gerbang Check-in Keberangkatan, menggambarkan seorang ibu dan anaknya yang memanggil becak setelah mengunjungi pasar. Tangan penuh dengan keranjang berisi belanjaan segar; mengenang masa lalu kehidupan di tahun 1950-an.    

Terinspirasi dari pengalaman transit di New York dan kemudian di Bandara Changi, Kurt Metzler (Swiss) menangkap pengalaman gembira dan energi yang ia rasakan dengan keluarganya di Bandara Changi melalui karya Travelling Family. Berlokasi di area Transit Keberangkatan, karya seni ini menggambarkan skenario di bandara – gabungan antara para penumpang dengan anak-anak mereka, semua siap untuk melangkah ke petualangan selanjutnya.

Yang terakhir, nikmatilah Les Oiseaux (The Birds) karya seniman Prancis, Cedric Le Borgne. Patung tiga burung, masing-masing dengan sikap yang berbeda, menyambut penumpang di Gerbang Kedatangan dan Keberangkatan. Burung-burung  Le Borgne berukuran raksasa adalah karakter 3D dari kawat yang merepresentasikan emosi yang berbeda-beda yang dirasakan ketika berada di bandara.

Ms Poh Li San, Vice President Changi Airport Group, T4 Programme Management Office, mengatakan, “Dengan T4, kami bertujuan untuk menciptakan pengalaman bepergian yang menyenangkan dan mengesangkan bagi para penumpang kami, dari fasilitas hingga layanan, sampai ke lingkungan dan elemen visual di dalamnya – terutama di lokasi-lokasi yang lebih ramai pengunjung dan lebih lama menghabiskan waktu. Koleksi karya seni dan format hiburan di T4 dirancang untuk dapat dinikmati semua orang dari berbagai umur dan kalangan, serta merupakan campuran dari beragam medium, ukuran, dan gambar yang dapat menginspirasi perjalanan melalui T4.”  

“Setiap karya telah dikonseptualisasi dan dirancang dengan pertimbangan cermat untuk dapat meningkatkan rancangan dan arsitektur terminal memberikan narasi yang menggabungkan seni dan travel. Harapan kami, para penumpang dapat menikmati koleksi sebesar saat kami menciptakannya.”

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

 

Geraldo Sientoro

FleishmanHillard Indonesia

E-mail: Geraldo.Sientoro@fleishman.com

Mobile: +62 878 7722 5449